rendang minang #1 : mengurai pantai di sikuai

Posted: July 14, 2013 in journey, rurality
Tags: , , , , ,

cover


Bebutir pasir
remah yang dilepih laut
Seperti nasib getir
musti diubah sebelum akut

Belajar dari Ombak ~ Sitok Srengenge : Kelenjar Bekisar Jantan

Pagi 29 Maret 2013 itu pesawat Lion Air JT252 yang dinaiki aku dan Felicia Lasmana mendarat di Bandara Minangkabau, Sumatera Barat jam 07.35. Bandara ini cukup besar dengan arsitektur Gonjong Minang yang khas. Kami yang baru pertama kali ke ranah minang ini celingukan mencari kendaraan yang membawa ke kota. Petugas bandara cukup kooperatif dan menunjukkan lokasi bus Damri yang membawa kami ke tengah kota Padang. Setelah menemukan bis dan bertanya pada supirnya, apakah kami bisa turun ke dekat Jl Batang Arau, uda (panggilan kakak laki-laki di Minang) supir ini menyebutkan akan menurunkan kami di depan museum.

bandara minangkabau

bandara minangkabau

Memang aku ingin sekali mengunjungi bumi Minangkabau ini yang terkenal dengan rumah gadang-nya, keindahan ngarai-ngarai bebatuan dan air terjunnya. Satu keinginan terbesarku adalah melihat rumah gadang dengan gonjongnya, yang benar-benar asli, yang masih ditinggali untuk hidup sehari-hari, bukan yang sudah jadi museum atau rumah makan, atau hanya atap dengan hiasan-hiasan gonjong yang menghiasi banyak bangunan di situ.

Perjalanan dari bandara Minangkabau hingga kota Padang sekitar 35 menit, melalui jalan raya yang cukup besar dan lancar, sejajar dengan jalur rel kereta api Sumatera barat. Sepanjang jalan banyak bertemu dengan angkutan kota dengan tempelan sticker yang amat keren layaknya mobil balap, dengan suara sound system yang berdentam-dentam. Untung kami duduk paling depan, sehingga mendapat pemandangan yang cukup lebar untuk melihat depan kiri kanan, dan mengenali bangunan-bangunan yang terlewati dan tertandai di google map.

jalanan menuju padang yang lancar dan angkot yang full sticker

jalanan menuju padang yang lancar dan angkot yang full sticker

Karena kami berencana hanya 3 hari di Minangkabau, maka Sikuai ini menjadi pilihan di hari pertama karena waktu untuk menjelajahnya cukup sehari, sementara memang kami sampai di Padang masih cukup pagi. Supir menurunkan kami di ujung depan Museum Adityawarman. Kami memutuskan berjalan kaki saja sampai jalan Batang Arau, karena tujuan pertama kami adalah ke Pulau Sikuai yang tahun lalu begitu tenar di kalangan para pejalan. Setelah berjalan kaki sekitar 10-15 menit melewati jalan Diponegoro, sampai ke tepian laut. Dengan ransel cerah di punggung dan sunglass di hidung, rasanya turis banget, deh. Pagi itu saja sudah cukup terik panasnya. Berkali-kali kami ditawari angkot dan ojek yang melintas. Tapi karena jalur jalan sudah terpetakan di google map, kami tetap berjalan santai dan menolak halus tawaran-tawaran itu.

petunjuk yang jelas bukan?

petunjuk yang jelas bukan?

Sayang sekali, di dermaga Batang Arau, kantor pengelola pulau ini new-sikuaiisland.com ini tutup. Seorang pengemudi ojek menghampiri kami dan mengatakan bahwa kantor Sikuai tutup karena pengelolanya bermasalah dengan korupsi dan mereka tidak lagi mengoperasikan ferry menuju Pulau Sikuai. Waduh, bagaimana ini?

Ternyata si tukang ojek bernama Pak Iis ini menawarkan diantar dengan kapalnya langsung seharga satu juta rupiah sehari. Walah, mahal juga ya? Dibagi berdua kok rasanya berat juga. Kami memutuskan untuk nongkrong dulu menunggu barangkali ada dua orang lagi yang datang sehingga harga sewa kapalnya tidak terlalu mahal ditanggung masing-masing orang. Tapi sesudah 15 menit dan matahari mulai terik, tukang ojek itu tawar menawar dan akhirnya kami setuju dengan harga sewa sebesar Rp 800 ribu sehari. Kepalang tanggung sudah sampai lokasi. Anggaran untuk ke Sikuai yang tadinya hanya Rp 250 ribu rupiah per orang pun jadi membengkak. Kami berharap semoga pulaunya benar-benar menyenangkan.

Sementara Pak Iis ini mempersiapkan kapalnya, aku dan Felicia memutuskan untuk sarapan di sebuah warung makan (yang semuanya tentu masakan Padang), sambil membeli bekal makan siang. Karena kalau pagi rendang belum matang, maka kami membeli lauk ayam dan ikan untuk dibungkus dibawa ke Pulau Sikuai. Tiba-tiba Felicia teringat, “Ndri, kayaknya yang punya kapal yang pernah gue telepon dari Jakarta dulu namanya juga Pak Iis, deh. Jangan-jangan orangnya sama.” Wah, kebetulan banget. Memang sebelumnya kami dapat info kalau Pulau Sikuai ditutup, tapi ada kapal yang bisa menyeberangkan ke sana. Dari cari info sana-sini, didapatlah nomor telepon Pak Iis yang sempat kami tawar-tawaran harga sejak di Pulau Jawa sana. Kalau orangnya sama, kebetulan memang nggak kemana.

Dermaga Batang Arau ini ada di muara sungai Batang Arau, yang dipenuhi banyak sekali kapal-kapal dari jenis kapal nelayan, feri antar pulau, kapal kecil, hingga boat yang lumayan mewah, semua memenuhi muara ini. Memang ini salah satu pintu menuju laut Samudera Hindia yang banyak terdapat beberapa kepulauan yang masih ada di dalam propinsi Sumatera Barat. Kalau mau surfing ke kepulauan Mentawai atau snorkeling/diving ke kepulauan Cubadak bisa lewat pelabuhan di muara Batang Arau ini.

Tak lama, Pak Iis datang membawa kapalnya yang ternyata, tidak terlalu besar. Perahu sepanjang 4 meter itu dengan lebar 80-an cm itu yang akan membawa kami melintasi laut tepian Sumatera. Dasar kami berdua cewek yang tidak gentar, langsung kami melompat dan mencari posisi nyaman untuk duduk di kapal. Pak Iis menyodorkan topi caping untuk dipakai Felicia selama di jalan, sementara aku mengeluarkan topi lebarku yang berwarna pink. Kami mengoleskan sunblock di tangan dan kaki supaya tidak gosong. Beberapa benda berharga dimasukkan ke dalam dry bag. Mesin motor meraung dan kami bertiga pun meninggalkan Dermaga Batang Arau.

di kapal bertemu dengan nelayan melaut

di kapal bertemu dengan nelayan melaut

Beruntunglah, arus tidak terlalu besar. Aku yang tidak terlalu pandai berenang ini pun merasa senang bisa berada kembali di tengah laut. Meskipun hanya bisa berenang ala kadarnya, aku selalu memberanikan diri di kapal. Karena kalau kita gentar, nanti tidak bisa menikmati perjalanan. Apalagi pemandangan sepanjang jalan amat indah. Sepanjang kiri melihat pesisir Pulau Sumatera, kami melewati Bukit yang katanya ada makam Sitti Nurbaya, kemudian Pantai Air Manis tempat terdamparnya legenda Malin Kundang, sampai melalui Pelabuhan Teluk Bayur yang terkenal sebagai jalur merantau orang-orang Minang. Juga ada satu mercusuar dari satu kompleks pembangkit listrik di tepi pesisir yang kami lihat. Pelayaran ini termasuk menyenangkan. Ombak juga tidak terlalu besar sehingga tidak pusing atau mabuk laut apa pun.

kapal besar lepas pantai teluk bayur

kapal besar lepas pantai teluk bayur

Setelah sekitar satu jam di kapal, sampailah kami di Pulau Sikuai. Dari kejauhan kami sudah melihat dermaganya yang berwarna merah. Kapal menepi dan kami naik ke dermaga. Pulau ini benar-benar sepi. Hanya ada satu penjaga pulaunya yang dikenal baik oleh Pak Iis. Kami berjalan menyusuri dermaga menuju area bangunan utama. Di samping banyak pohon kelapa yang melambai-lambai. Benar-benar tempat yang nyaman untuk mengasingkan diri.

resort utama sikuai

resort utama sikuai

Tadinya, Pulau Sikuai merupakan resort yang dikelola oleh Sikuai Island Resort yang berkantor di Jl Batang Arau. Biasanya reservasi dilakukan di sana dan ada ferry yang akan mengantarkan pengunjung di jam-jam tertentu. Dengan tidak beroperasinya perusahaan ini, maka pengelolaan resortnya pun menjadi terbengkalai. Ada satu bangunan utama di depan dermaga yang berfungsi sebagai ruang bersama yang cukup besar. Berbelok ke kiri, akan tampak deretan pohon-pohon kelapa , jalan setapak, dan cottage-cottage yang disewakan yang semuanya menghadap pantai.

dermaga panjang, spot favorit

dermaga panjang, spot favorit

tepian pantai yang banyak pelepah kering

tepian pantai yang banyak pelepah kering

Kami menyusuri jalan setapak yang merupakan perkerasan keliling pulau. Pantainya buliran pasir putih yang cantik, sayang banyak sampah pelepah daun kelapa kering yang berjatuhan. Pantai ini menghadap ke laut yang langsung bertemu Pulau Sumatra yang ditumbuhi hutan-hutan yang hijau. Di sebelah kanan jalan setapak adalah cottage-cottage cantik yang dulu ramai disewa turis untuk menikmati keindahan Sikuai. Cottage berwarna merah ini dibuat dari kayu dan dicat merah cerah. Penjaga pulau menawarkan kami untuk menginap dengan harga Rp. 500.000,- per malam.

jalan, pantai, dan cottage

jalan, pantai, dan cottage

Pak Iis menawari kami kelapa muda. Wah, segar sekali meneguknya di tengah cuaca terik ini. Namun siapa yang berharap teduh ketika di pantai? Tetiba mata kami menatap hammock yang terentang di antara dua pohon kelapa. Sungguh tempat ideal untuk leyeh-leyeh menikmati pantai. Langsung aku dan Felicia masing-masing memilih hammock dan tidur-tiduran malas.

hammock? oye!

hammock? oye!

Usai beberapa jenak menikmati semilir angin yang sebenarnya bikin mengantuk, kami memutuskan untuk menjelajah pulau mendaki puncak bukit pulau Sikuai. Dari belakang bangunan utama terdapat perkerasan tangga selebar 120 cm yang terus sampai ke puncak. Sepanjang kiri kanan tangga ditumbuhi pakis dan tanaman-tanaman rendah sehingga pandangan menjadi menarik ketika naik bukit dan perlahan-lahan melihat laut menghampar di sekeliling.

tangga naik ke bukit sikuai. ratusan!

tangga naik ke bukit sikuai. ratusan!

Kami berjalan sekitar 20 menitan ketika menemukan sebuah stasiun detektor gempa di satu ‘jendela’ pandang. Apabila ada gempa yang rambatannya dari laut, detektor ini yang akan menginformasikannya dulu pada kantor gempa. Aku dan Felicia berfoto-foto di samping detektor gempa itu sambil mengambil napas usai mendaki ratusan anak tangga di siang yang terik itu. “Kita mau terus ke atas?” tunjuk Felicia ke deretan anak tangga menuju puncak. Aku nyengir dan menjawab, ayolah. Tanggung sudah sampai sini.

jalan yang dilalui dan detektor gempa

jalan yang dilalui dan detektor gempa

Kami menaiki anak tangga yang tersisa sampai terlihat sebuah kolam renang di puncak. Pemandangannya luar biasa. Di sebelah utara Sikuai ada pulau yang memanjang. Lalu di timur terlihat daratan Sumatera dengan pegunungan yang membentang hijau. Laut mengelilingi dalam pelukan biru dan hijau toska.

Sayangnya udara yang cerah itu tidak diimbangi dengan angin. Titik puncak itu sepertinya mati angin sehingga kami yang berkeringat tidak mendapati kesiurnya. Usai beristirahat sejenak kami turun ke satu cekungan yang dilalui angin. Weih, nyaman sekali di sini. Duduk-duduk di tangga, memandangi biru laut, hijau di kejauhan, pohon kelapa di bawah. Tak nampak aktivitas di pantai bawah sana. Jangan-jangan tamu pulau ini hanya kita berdua.

dari puncak

dari puncak

pulau panjang

pulau panjang

foto berdua dong!

foto berdua dong!

Setelah agak segar, kami berlarian ke bawah. Perut agak terasa lapar. Untung kami berbekal nasi padang yang kami tinggalkan di tepi laut. Sesampai jalan setapak pantai segera kami menuju ke hammock yang tadi, membuka bungkusan berisi ayam bakar bumbu pedas.

Pulau Sikuai juga terkenal dengan bawah lautnya yang indah. Tandas makan siang, kami berganti baju untuk berbasah-basah ria dan mencemplungkan badan ke biru laut untuk menyapa ikan-ikan. Dengan snorkel pinjaman dari penjaga pulau, kami berdua berenang di bawah dermaga yang penuh dengan ikan-ikan kecil. Di luar dugaan, di sepanjang bibir pantai ternyata hamparan pasirnya tidak menerus tetapi langsung habis turun ke hamparan karang yang tertutup air laut. Saat berenang di antara karang-karang tersebut banyak terdapat ikan hias yang berwarna warni berbagai jenis. Semua itu hanya beberapa langkah dari bibir pantai!

Kami berenang-renang sampai puas mengagumi keindahan bawah lautnya. Jika punya waktu banyak dan snorkel bagus, pasti inginnya berenang mengelilingi garis pantai pulau ini dan menikmati bercanda dengan ikan-ikan cantik ini. Karena tak satu pun dari kami punya underwater camera, jadi semua pemandangan ini hanya terekam dalam ingatan. Lagipula, memang kami tak terlalu narsis dalam air. Maklum, tampilan jadi lepek dan cupu.

menyusur pantai

menyusur pantai

deretan cottage

deretan cottage

Menjelang sore kami mentas dan berjalan kaki di atas pasir ke selatan pulau. Terdapat dermaga panjang yang mengelilingi sebagian pulau. Kami menyisiri dermaga itu yang kakinya dipenuhi ketam-ketam kecil. Dermaga yang terbuat dari kayu itu agak terasa tajam di kaki. Terus ke selatan, dermaga menyambung dengan jalan batu menuju hutan Sikuai. Mungkin dulu ketika pariwisata masih marak, jalur ini nyaman dipakai bersepeda. Sayang pulau ini kini sepi. Tata atur bangungan, dermaga, dan jalur berwisata untuk menikmati pulau ini sudah cukup bagus. Untuk yang hanya sekadar bersantai, untuk yang kuat ke puncak, bahkan untuk yang hanya berkeliling pulau saja, bisa dilakukan.

dermaga panjang mengelilingi bukit

dermaga panjang mengelilingi bukit

Hari makin beranjak sore. Aku dan Felicia berkemas untuk kembali ke darat. Karena di Sikuai sulit air, Pak Iis menyarankan kami untuk mandi di Pulau Pagang, sekitar 10 menit sebelah selatan Sikuai. Pulau Pagang ini banyak berdiri rumah-rumah yang disewakan. Sebagian besar pengunjungnya adalah turis mancanegara. Pantainya pun berpasir putih dan menjorok langsung ke laut. Kami mandi bergantian untuk melepaskan lengket air laut usai berenang tadi. Di pulau ini dikenakan ongkos turun Rp. 10.000,- yang dibayarkan pada penjaga pantainya, yang ternyata berasal dari Mentawai.

pulau pagang

pulau pagang

Matahari masih cerah ketika kami meninggalkan Pulau Pagang. Padahal waktu sudah menunjukkan jam 6 sore. Ketika kembali berlayar melalui pulau Sikuai, kami melihat pemandangan indah. Sepotong bianglala membusur terbentang di langit timur. Aku menjerit-jerit kegirangan. Pelangi di sore yang cantik itu berkaki di salah satu bebukitan, melengkung ke langit sampai hilang ditelan awan. Mungkinkah ada bidadari mandi di ujungnya? Pelangi adalah fenomena alam yang tidak dapat diperkirakan kapan datangnya. Kehadirannya selalu membawa gelombang bahagia dalam hati.

Tidak hanya sebentar saja, ternyata si bianglala cantik ini terus menemani perjalanan kami. Bayangkan, di tengah lautan dengan debur ombak menemani, di kanan terbentang sebusur pelangi dengan puncaknya termakan awan, di kiri terpapar matahari senja keemasan dengan ribuan kapas awan berserakan yang mengantarnya tenggelam. Tidak ada lain yang bisa kukatakan selain Alhamdulillah.

Terima kasih Tuhan atas pemandangan terindah, senja terbaik yang pernah kualami.

bianglala di kanan kapal

bianglala di kanan kapal

sunset di kiri kapal

sunset di kiri kapal

perjalanan 29 maret 2013
ditulis di KRL : 1-5 juli 2013

cerita selanjutnya : rendang minang #2: ber-google maps raun-raun padang

Kalau suka tulisan-tulisanku, bisa vote TindakTandukArsitek di Indonesia Travel Blogger Award sampai 17 Agustus 2013. Terima kasih. :)

Comments
  1. giewahyudi says:

    Widih ada foto angkot Padang yang khas itu. Rugi kalau ga cobain musik di angkot itu..
    Oya aku dulu zaman kuliah tahun 2006-an (lupa) pernah ke Sikuai juga, cuma waktu itu buat penelitian dan di sono tuh dulunya belum ada orang piknik. Sepi banget, dan enaknya resort kecil itu dulunya murah sekali, Sekarang pasti mihil..

  2. prameswari says:

    Bagusnya pantainya, sayang yaa jika gak ada pengelolanya……Eh tadi awalnya karena judulnya pantai Sikuai, kirain ada adegan pake bikininya. hihihi

    • indrijuwono says:

      kalaupun ada adegan pakai bikini, tentu bakal unfacebookable, untwitterable, unwordpressable.. hihihihi..
      ayo kak, investasi di sini, peluang pariwisata yang bagus loh, hihi.. sebenarnya kalau banyakan ada boat yang lebih bagus untuk ke sana (cuma kita gak kuat nyewanya kl berdua.. :p)

  3. Imelda says:

    biaya menginap semalam 500.000 itu untuk satu orang atau harga satu kamar?
    Kalau lihat dari foto memang indah ya

  4. flasmana says:

    Excellent!! ditunggu posting berikutnya yaaa
    Jadi pengen kesana lagiii uy dan sunburn gua belum hilang ampe sekarang walau udah luluran hampir tiap minggu :D

  5. Iwan Rasta says:

    Let’s rawwkk !!!

  6. Ijal Fauzi says:

    Seru banget perjalanannya mba >,< *envy
    haha

  7. nannia/nanny says:

    wah beruntung banget dapat pemandangan unik..indah banget..bersabung ga nih ceritanya ?
    jadi rindu ranah minang udah lama ga ke sana :(

  8. azmee says:

    oowh yg situs pulau sikuai itu udh ga ada ya..yahh sayang banget, potensi wisatanya klo dikelola dgn bener pasti untung tuh.

  9. ranselhitam says:

    Minangkabau termasuk salah satu destinasi yang pengen aku datangi, mbak. Ebetewe itu pelanginya cihuy banget sih :)

  10. alvie says:

    widih uy, sakit hati juga begitu tahu harga kapal dari rencana 250 jadi 800
    pengen gigit orang rasanya haha

    tapi bayarannya kayaknya sepadan deh :D

  11. Hai, Mbak! Aku ada plan ke Sikuai awal November, tadinya mau ambil one-day tour yg 250rb. Patah hati deh waktu dapet info manajemennya tutup ;-( Tapi agak hopeful pas baca postingmu. Boleh minta alamat emailmu untuk tanya2 lebih lanjut, nggak? Atau aku bisa minta nomer telponnya Pak Iis? Many thanks yaaa

  12. hi…asik deh baca postingannya….emm….rate nya itu per kamar kan?bukan per pax?trus ud masuk ongkos PP+breakfast dinner?

  13. fauzan says:

    SINGGALANG TOUR & TRAVEL

    Menyediakan : 1. Paket wisata dalam negeri
    2. Paket wisata luar negeri
    3. Wisata pulau ( Pulau Pagang, Pulau Sikuai, dll )

    Untuk info
    contact person : 081959270247
    085278310259 / 23967b6

    harga miring serius telp/sms :)

  14. Putti says:

    hai.. boleh minta alamat email? saya ada rencana ke sumbar (+kepulauan sekitarnya seperti sikuai dan pagang). belum berani “backpack murni”. jadi pengen minta beberapa advice, kalo boleh :)

    email saya di ratuputtiranni@yahoo.co.id

    salam, putti ranni :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s